Featured Insights

Hybrid Energy Systems, Microgrids Reduce Costs for Indonesia’s Mining Industry

Bahasa Indonesia​ translation

Indonesia’s mine operators face the challenge of powering critical operations in remote locations far away from an electric power grid.

In areas such as Kalimantan, Sumatera and other eastern parts of Indonesia, operators often use diesel generation to fuel their operations. Fluctuating fuel costs, high consumption, unreliable delivery channels and risky storage tanks are common challenges faced.


Hybrid Energy Systems

Integrating renewable energy into hybrid energy systems (also known globally as microgrids) can achieve a more sustainable supply of power that reduces fuel costs and increases the resilience of power supply.

“Indonesia and its annual climate is an opportune area to capitalize on renewable energy production and savings offsets instead of solely relying on diesel generation. Many remote mining areas receive substantial amounts of sunlight and are obvious candidates for hybrid energy systems with solar farms,” said Sherri Jett, project manager for Black & Veatch.  

Peter Ferrigno, President, CORP Consulting, and representative for Black & Veatch International added that Black & Veatch is at the forefront of developing hybrid energy systems.

“The hybrid energy systems combine conventional fuels such as diesel or coal with renewable sources into a smart, hybrid system that stores and distributes energy effectively and efficiently,” he said.

And that level of flexibility and sustainability can improve financial performance and environmental compliance to the benefit of all stakeholders.

For example, Integrating wind power to account for 15 percent of a site’s energy supply could save the operator, on average, 10 percent in overall energy costs (assuming a five megawatt demand), according to Chris Mertes, a renewable energy consultant for Black & Veatch.

Incorporating energy storage can further increase the use of clean, renewable energy. Pricing of energy storage technologies, particularly lithium ion, are declining and offer a competitive option for increasing the flexibility and reliability of remote power systems.


Subject Matter Experts:
Sherri Jett: JettSA@bv.com
Peter Ferrigno: PeterF@corpconsults.com


Contact us to learn more about what we can do for you.


Sistem Energi Hybrid, Mikrogrid (Jaringan Listrik Mikro) Menghemat Biaya Industri Pertambangan Indonesia

Tantangan yang dihadapi operator tambang di Indonesia adalah kebutuhan listrik untuk operasional tambang yang penting  di daerah terpencil yang jauh dari jaringan listrik.

Di Kalimantan, Sumatra dan Indonesia bagian timur, pembangkit listrik tenaga diesel menjadi pilihan utama operator untuk kelangsungan operasional mereka. Harga bahan bakar yang fluktuatif, konsumsi bahan bakar yang tinggi, jaringan distribusi yang tidak handal dan tangki penyimpanan yang berisiko merupakan tantangan yang biasa dihadapi.

Sistem Energi Hybrid

Mengintegrasikan energi terbarukan dalam sistem energi hybrid (Umumnya lebih dikenal dengan mikrogrid atau sistem jaringan listrik mikro) dapat menghasilkan pasokan listrik yang lebih berkelanjutan sehingga mengurangi biaya bahan bakar dan meningkatkan ketahanan pasokan listrik.

“Indonesia dan kondisi cuaca tahunannya merupakan daerah yang tepat untuk memanfaatkan sumber daya energi terbarukan daripada hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel. Banyak area pertambangan di daerah terpencil mendapatkan cahaya matahari yang memadai dan berpotensi untuk menerapkan sistem energi hybrid dengan pembangkit listrik tenaga surya,” kata Sherri Jett, project manager Black & Veatch.

Peter Ferrigno, President, CORP Consulting, dan perwakilan Black & Veatch International menambahkan bahwa Black & Veatch adalah yang terdepan dalam mengembangkan sistem energi hybrid.

“Sistem energi hybrid memadukan bahan bakar konvensional seperti minyak diesel atau batubara dengan sumber-sumber energi terbarukan untuk menghasilkan sistem pembangkit listrik hybrid dan pintar yang dapat menyimpan dan mendistribusikan listrik secara efektif dan efisien,” ujar Peter.

Pada tingkat fleksibilitas dan keberlanjutan yang dimiliki sistem tersebut dapat meningkatkan kinerja keuangan dan kepatuhan lingkungan yang akan menguntungkan para pemangku kepentingan.

Sebagai contoh, menurut Chris Mertes, konsultan energi terbarukan Black & Veatch, pengintegrasian penggunaan pembangkit listrik tenaga angin sebesar 15 persen pada pasokan listrik di pertambangan dapat menghemat  rata-rata 10 persen dari biaya energi keseluruhan (dengan asumsi daya yang dibutuhkan 5 megawatt).

Penggunaan energi yang terbarukan dan bersih dapat semakin ditingkatkan dengan menggunakan teknologi penyimpanan energi dalam sistem operasional tambang. Harga teknologi penyimpanan energi, khususnya lithium ion, terus menurun dan menawarkan opsi yang kompetitif untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan sistem pembangkit listrik di daerah terpenci.


Nara Sumber Ahli
Sherri Jett: JettSA@bv.com
Peter Ferrigno: PeterF@corpconsults.com